Selasa, 20 Oktober 2015

" KERUNTUHAN JURNALISME"


RANGKUMAN BUKU 


'KERUNTUHAN JURNALISME'

Karya : Dudi Sabil Iskandar



Nama            : Ikram Abandi
NIM               : 1571505559
Kelompok   : YJ  
Dosen           : Dudi Iskandar


BAB I
INDIKATOR KERUNTUHAN JURNALISME

A.  Jurnalisme Bias

Jokowi merupakan figur pemimpin yang rela berkotor dengan lumpur. Ia bukan sosok yang berada di  menara gading, tidak terpengaruh ruihnya wacana lisan dan omong besar seperti penjabat publik lain. Jokowi Pun tidak menyampaikan dalam bentuk orasi dan tulisan tapi terjun langsung berkotor dengan lempur, menyapa rakyat mendengar keluh kesah kaum dhuafa menyerap aspirasi wong cilik.
Kunci utama keberhasilan kempemimpinan dalam bentuk dan level apapun adalah perbuatan bukan sejumlah orasi, segepok konsep atau segenap perintah. Blusukan adalah kata kerta jokowi, kita akan menemukan ratusan pengakuan warga yang menemukan jokowi sedang blusukan tanpa wartawan.
“Satu perbuatan lebih bermakna dari pada seribu kali perkataan” Kalimat itu pertama kali saya baca di pintu depan HMI Cabang Yogyakarta puluhan tahun silam. Karena kepemimpinan yang mendahulukan perbuatan dari pada perkataan (perintah) inilah, Jokowi menjadi trendstter dan unggul.
Berdasarkan data dari Kementrian Dalam Negri, sebanyak 70% kepala daerah terjerat kasus korupsi. Terdiri dari 21 gubernur, 7 wakil gubernur, 156 bupati, 46 wakil bupati, 41 wali kota dan 20 wakil wali kota. Bersama wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jokowi mempublikasikan penghasilan sebagai penjabat negara melalui media sosial. Jokowi mengenyahkan sumber awal korupsi ketidakterbukaan informasi dan anggaran.

Tak Kritis

Menurut teori jurnalistik, unik dan memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari news values (nilai berita). Dua nilai berita itu ada pada  diri Jokowi. Satu nilai yang tidak sengaja dimiliki  Jokowi  adalah proximity (kedeketan).

B.  Jurnalisme dan ‘Amplop Besar’

Pada dua millist institusi wartawan yang berbeda tertera “Undangan Mengambil THR (Tunjangan Hari Raya)’ di salah satu isntansi pemerintah. Tentu saja ada yang tertawa senang, ada yang mencibir dengan geram, ada yang mengeritik. Pun, tentu saja ada yang menyambutnya. Singkaty kata di dua millist tersebut terjadi pro dan kontra. Inti dari isi millist tersebut adalah institusi pemerintah tersebut menyediakan THR untuk wartawan yang bertugas (ngepos) atau sehari-hari meliput kegitatan di institusi pemerintah itu. Kalau mau silahkan ambil THR yang disediakan, kalaupun tidak diambil, tidak menjadi masalah. Inilah yang penulis sebut sebagai amplop kecil. Tidak lebih dari 500 ribu.

Kecepetan dan percepetan telah menyeret jurnalisme kedalam pusaran kompetisi global. Disini lidah api kapitalisme menyambar dan membakar jurnalisme. Untuk dekat kekuasaan politik perlu memiliki dalam bentuk kekuasaan lain. Hari ini, kekuasaan lain yang sangat kuat adalah media. Oleh sebab itu jika kekuasaan politik dan kekuasaan media bersatu, bersinergis, maka uang dengan sendirinya akan mengalir. Inilah rumus sederhana penguasa media. Inilah yang penulis sebut dengan amplop besar. Jumlah tak terhitung,tidak ada batasnya dan tidak ada serinya.

C. Jurnalisme dan Budaya Copy Paste


Keinginan sekelompok wartawan itu menemukan momentumnya ketika ada peristiwa pembunuhan yang cukup menghebohkan disatu tempat yang kebetulan wartawan dari media besar tidak ikut ke tempat kejadian perkara (TKP). Munculnya internet sebagai baguan dari teknologi komunikasi dan informasi menyebabkan kejadian tidak langsung menjadi berita dimedia konvensional.

Disisi lain, kemajuan teknologi komunikasi juga mengakibatkan wartawan menjadi pemalas. Untuk apa memverifikasi fakta, mengejar narasumber yang kualifaid, dan mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) jika semua persyaratan menjadi senuah berita bisa diselesaikan melalui teknologi komunikasi dan informasi seperti telepon, pesan pendek, blackberry messager (BBM), Whatsapp, Telegram dan seterusnya.

D.  Jurnalisme Pembuat Heboh


Dalam dunia yang kian kompleks tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan terjadinya sesuatu. Sebuah peristiwa terjadi atau sebuah relitas dibuat karna ia organis, sistemik, dan komprehensif dengan setting social yang ada. Apalagi dunia kini hanya sebuah perkampungan global (global village).
Konstruksi Sosial Media Massa
Salah satu pembentuk konstruksi realistas di dunia modern adalah media massa. Seraya melontarkan kritik kepada Berger dan Luckmann, Burhan Bungin” menyebutkan media massa, termasuk surat kabar, menjadi variable yang sangat substantif dalam proses eksternalisasi, objektivikasi, dan iternalisasi. Karena pengaruh media mssa itulah ia memunculkan teori baru sekaligus revisi terhadap Berger dan Luckmann dengan tiga terminologi yaitu eksternalisasi,subjektivikasi dan intersubjektif.
Menurut Burhan Bungin ada empat tahapan kelahiran konstruksi sosial media massa. Yaitu, penyiapan materi konstruksi, sebaran konstruksi, pembentukan konstruksi realitas dan konfirmasi. Dari empat tahapan itu melahirkan dua model konstruksi realitas media massa, yaitu model analog dan refleksi realitas.
Dengan demikian berita hasil konstruksi,, berita sebagai hasil konstruksi media massa terhadap suatu peristiwa yang dijadikan acuan khalayak bukan realitas yang sebenernya. Ia hanya mirip sebuah peristiwa tetapi tidak memiliki “ruh” peristiwa yang sebenrnya.


Konstruksi Sosial Media Massa

Salah satu pembentuk konstruksi realitas di dunia modern adalah media massa. Burhan Bungin menyebutkan media massa, termasuk surat kabar, menjadi variabel yang sangat subtantif dalam proses eksternalisasi, objektivitasi, dan internalisasi. Karena pengaruh itulah ia memunculkan teori baru sekaligus revisi terhadap Berger dan Luckman dengan tiga terminologi, yaitu eksternalisasi, subjektivitas, dan intersubjektif.

Konstruksi Berita

Sebuah berita di suatu media bukan hanya rangkaian fakta yang tersusun menjadi sebuah kalimat dan paragraf. Ia juga merupakan reprentasi dari pikiran dan sikap penulis dan asisten redaktur serta redaktur. Fakta hanya ditulis apa adanya akan kering gaya dan tidak nyaman dibaca. Dengan demikian, wartawan sudah dikonstruksi dengan berbagai hal yang tidak netral dan indepen.

Ada tiga pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita di surat kabar, yaitu ideologis, politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis terjadi karena faktor pemilik atau nilai-nilai yang dihayatinya. Pertimbangan politis berangkat dari kenyataan bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan politik. Apalagi pers disebut sebagai pilar keempat demokrasi.

Era Baru Konstruksi Media

Meski akurasi informasi pada media akses masih perlu diuji, tetapi dalam ranah kecepatan penyebaran informasi, internet adalah nomor wahid. Harus diakui internet menciptakan kebebasan individu yang tidak pernah ada dan terbayangkan sebelumnya. Implikasi dari kebebasan tak terbatas di ruang maya ialah yang menjadi akselerator dan katalisator kedewasaan masyarakat.

E. Jurnalisme Tanpa Konfirmasi

Ketika ditetapkan tersangka dalam kasus sisminbakum, Kementrian kehakiman dan ham, mantan mentri kehakiman dna ham yusril ihza mahendra mengeluhkan adanya pembunuhan karakter dan massa depan karier politiknya. Dalam pandangan yusril, tudingan korupsi di era reformasi mirip seperti tudingan keterlibatan dalam partai komunis indonesia (pki) ketika di era orde baru. Dalam catatan indonesia indikator, sepanjang tahun ini, setiap bulannya tidak pernah sepi dari pemberitaan tentang korupsi. Dalam konteks itu lah sesungguhnya korupsi sebagai agenda setting tersendiri dari masing - masing media. Teorisme kerpa disandingkan atau diidentikan dengan radikalisme dan fundamentalisme, dan agama berdiri sendiri tanpa keterkaitan apapun. Medialah yang mempopulerkan , mendekatkan , bahkan menautkannya sehingga menjadi kesadaran benak publik. Bahwa terorisme berkaitan dengan agama. Inilah dosa media yang membuat fakta dan fiksi tentang terorisme sangat kabur batasannya Jean Baudrillard menyebutnya dengan istilah Hyperreality.


Berita Tanpa Verifikasi Fakta

Apa itu verifikasi fakta? Kovach dan Rosentiels mengatakan bahwa ada lima indikator dalam verifikasi fakta, yaitu :

1. Wartawan jangan menambah atau mengarang apapun,
2.Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar,  bersikaplah transparan,
3.Sejujur mungkin tentang metode dan motivasi
4. Bersandarlah terutama pada reportase sendiri, dan 
5. Bersikaplah rendah hati

F. Jurnalisme adakah etika?

 
Sekali lagi etika jurnalistik karena hasil kreasi manusia masih perlu diperbedakan, termasuk keberpihakan terhadap kandidat tertentu dalam kontestasi politik. Bahkan, etika dalam beberapa perspektif tergantung yang mempergunakan. Hal ini pula yang sedang terjadi pada jurnalismeonline, yang secara kasat mata sudah mengubah tradisi jurnalisme tradisional.Secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check dan balance, cover all sides, verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi berfungsi untuk menjamin media memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang sehat dan mencerahkan.

BAB II 
PENYEBAB KERUNTUHAN JURNALISME
 

A. Postmodernisme

Postmodernisme merupakan gerakan komtemporer. Gerakan ini kuat dan modis. Namun, tidak jelas apa gerakan ini. Tidak hanya sulit mempraktikanya, bahkan sulit juga menolaknya. Oleh sebab itu, postmodernisme yang dianggap antithesis modernism bukan saja proyeksi culture studies tetapi juga keniscayaan yang selalu mengelilingi dunia kita.

Singkat kata postmodernisme merupakan segala bentuk refleksi kritis atas segala paradigma – paradigma modern dan atas metafisika pada umunya. Gagasan postmodernisme adalah semua yang ada adalah sebuah teks; bahwa bahan pokoknya teks; apapun adalah makna – makna yang perlu diurai atau “didekonstruksi;” pandangan yang objektif perlu dicurigai; dan hermenetika (dipahami sebagai aliran filsafat yang bertujuan menafsirkan realitas sebagai teks). Postmodernisme merupakan segala bentuk refleksi kritis atas segala paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. Gagasan postmodernisme adalaha semua yang ada adalah sebuah teks bahwa bahan pokonya teks apapun adalah makna-makna yang perlu diurai atau "didekonstruksi" pandangan yang objektif perlu dicurigai dan hermenetika adalah nabinya. Apapun sesuatu itu ditentukan oleh makna yang ada dalamnya. Adalah makna yang membuat sesuatu itu berubah dari sebuah kebradaan yang tidak jelas menjadi objek yang bisa dikenali. Namun harus diingat makna yang memberikan eksistensi juga menentukan status dan dengan demikian merupakan alat dominasi. Masyarakat tidak bisa lagi membedakan antara realitas dan virtualitas. Sehingga ketika memnuhi semua kebutuhannya masyarakat  harus bercermin dari simulasi dan dari dunia maya. Satu hal yang diabaikan masyarakay adakah konsumsi terhadap media massa menyimpan bahaya yang lain.


B. Cultural Studies


Perkembangan dunia postmodernisme menambah kerumitan bagaimana kajian budaya dibatasi. Dalam cultural studies perspektif teori komunikasi kita harus bertemu dan bergelut dengan pendekatan dan istilah dekostruksi, hermeuntika, semiotika, makna, hegemoni, postmodernisme, dan relativitas.

Tidak ada gading yang tak retak.banyak kesulitan dalam memverifikasi cultrural studies, mulai dari istilah budaya, ideologi, hingga wilayah kajian yang sangat luas. Hal ini sangat berbeda jika membedah satu kajian tertentu dengan objek yang spesifik dan jelas. Dalam cultural studies presepektif teori komunikasi kita harus bertemu dan bergelut dengan pendekatan dan istilah dekostruksi, hermeneutika , semiotika, makna. hegemoni, postmodernisme dan relativitas.

cultural studies merupakan kritik atas definisi budaya yang mengaruh pada "the complex everyday world we all encounter and through which all move"

Setidaknya kita menemukan dua batasan yang dapat memberikan pejelasan tentang konsep ini. Pertama adalah ide umum dimana masyarakat atau kelompok memahami ideologinya atau caracara kolektif yang digunakan suatu kelompok untuk memahami pengalamannya. Kedua budaya dimengerti sebagai praktik-praktif atau keseluruhan cara hodup suatu kelompok apa yang dilakukan individu secara material dari hari ke hari

Dalam Ilmu Komunikasi, kita mengenal Claude Shannon, Nobert Wiener harold D. Lasswell, Kurt Lewin, Carl Hovland dan Paul F. Lazarzfeld sebagai perintis. Ada juga wilbur schramm yang menginstitusionalkan ilmu komunikasi.

BAB III
KEMUNCULAN JURNALISME BARU

 

A. Jurnalisme dan Citizen Jurnalisme

Semakin banyak jurnalisme warga kian baik perkembangan informasi yang diperoleh masyarakat. Informasi semakin beragam versi kebenaran kian banyak; verivikasi fakta bertambah plural. Sesungguhnya yang terpenting dari jurnalisme warga ini adalah hasil kreasi sendiri. Yakni, tulisan yang berisi reportase, liputan, wawancara, atau opini yang dimuat dalam blog atau media pribadi. Semakin banyak jurnalisme wagra kian baik perkembangan informasi yang di peroleh masyarakat. Informasi semakin beragam versi kebenaran kian banyak: verifikasi fakta bertambah plural bagi demokrasi dan kedewasaan kondisi ini sangat baik. Hanya saja di sinilah masyarakat membutuhkan verifikasi yang ketrat, atau meminjam istilah Aubrey Fisher filter  konseptual, dan melek media

Sesungguhnya yang terpenting dari jurnalisme warga ini adalah hasil kreasi sendiri . Yakni tulisan yang berisi reportase, liputa, wawancara, atau opini yang di muat dalam blog atau media pribadi.

B. Jurnalisme dan Ideologi

Ideologi memiliki karakteristik yang khas yakni adanya keyakinan, gagasan, kelompok tertentu, pandangan menyeluruh, politik, dan bersifat public. Karena itulah ideologi kerap disandarkan dengan kekuasaan dan budaya politik tertentu. Dalam kajian semiotika, ideoligi merupakan salah satu yang menjadi titik perhatiannya. Ideologi memiliki karakteristik yang khas yakni adanya keyakinan, gagasan, kelompok tertentu, pandangan menyeluruh, politik dan bersifat publik. Karena itulah ideologi kerap disandarkan dengan kekuasaan dan budaya politik tertentu. Misalnya China dengan ideologi komunis dan ideologi liberal di belahan dunia Barat.

Seperti yang dikemukakan di atas, dalam ideologi terdapat tiga aspek. Yaitu sebgai sistem kepercayaan, proyek sosial, dan relasi sosial. Dalam kajian semiotika, ideologi merupakan salah satu yang menjadi titik perhatainnya.

C. Jurnalisme dan Konvergensi Media

Konvergensi adalah perubahan teknologi, industri, budaya, dan social dalam lingkaran media termasuk di dalamnya budaya kita. Beberapa gagsan mendasar dari konvergensi anatara lain konten media mengalir ke beberapa gagsan mendasar dari kovergensi antara lain konten media media mengalir ke bebrapa platform media yang berbeda. Perkembangan jurnalistik selanjutnya adalah ia sebagai perusahaan komersial yang berkembang sekitar pertengahan abad ke-19 di eropa barat. ini dipicu oleh munculnya kebebasan sebagai salah satu hak konstitusional.

D. Jurnalisme dan Krisis Berita

Media utama juga harus mencari cara untuk mengintegrasikan semua suara dunia baru yang bisa mereka jangkau. Tugas itu menantang, tetapi penting. Idealnya, bisnis jurnalisme makin kurang ekstraktif dan makin kolaboratif. Banyak jurnalis terhormat hari ini percaya bahwa merangkul penuh jurnalisme warga hanya akan merusak bidang jurnalisme. Sistem pengumpulan berita yang terpisah dan sama – sama anonim itu tak akan sulit dibangung atau dipelihara. Dengan mengenkripsi rincian pribadi jurnalis serta menyimpan laporan di server yang jauh, pihak – pihak yang dirugikan oleh munculnya pers yang lebih independen akan semakin lumpuh. Media utama harus mengubah kesetian pembaca dan pemirsa yang menginginkan metode pengiriman informai yang lebih langsung., Media akan tetap menjadi bagian penting dan menyatu dengan masyarakat, tetapi banyak yang tidak akan bertahan.

E. Jurnalisme dan Media Baru

Jurnalisme menjadi pilar keempat demokrasi pada abad ke – 18 dan 19. Ia menjadi bagian tak terpisah dari kemuncul suatu sistem sosial dan politik yang lebih demokratis di eropa dan amerika utara. Perkembangan jurnalistik selanjutnya adalah ia sebagai perusahaan komersial yang berkembang sekitar pertengahan abad ke – 19 di eropa barat. Ini dipicu oleh munculya kebebasan sebagai salah satu hak konstitusional dan kemunculan iklan menjanjikan pengembalian investasi, pada sisi yang lainnya.Aspek lain krisis jurnalisme adalah mengenai perubahan budaya atau ketika jurnalisme dikonsumsi. Kaum tradisional membaca koran pagi. Bisnis surat kabar mencapai puncak kejayaan pada abad ke-20 selain memperoleh keuntungan yang besar, koran pun mempengaruhi kebijakan publik dan memiliki suara dalam politik internasional.


F. Jurnalisme dan Pencarian Core Mining

 Komunikasi mengenal dua madzhab. Yakni, aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan aliran pertukaran makna (madzhab semiotika). Aliran penyampaian pesan adalah yang tertua. Elemen komunikasi lain pada madzhab peyampaian pesan ini adalah media, noise, feedback, dan sebagainya.

Pernyataan adalah bagaimana jurnalisme sebagai author memberikan konstruksi tanda kepada reader sehingga tercipatanya makna di antara keduanya. Makna hanya akan tercipta jika ada hubungan antara pengarang dan pembaca. Dengan demikian makna dalam jurnalisme, Khususnya berita, akan terjadi jika pengarang dan pembaca memiliki kesamaan teks budaya.

G. Jurnalisme dan Pertukaran Makna

Berita adalah tulisan, tayangan, atau siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang dimuat atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan konstruksi 5w+1h. Prinsip 5w+1h kini berkembang menjadi 5w+1h dengan penambahan w keenam what next. Prinsip keenam ini muncul belakangan seiiring dengan markanya media online yang mengejar kecepatan penayangan / pemuatan suatu peristiwa.Konstruksi tulisan berita konvensial adalah piramida terbalik. artinya dalam berita model ini kepala berita menjadi tempat fakta terpenting versi redaksi tentuya, Sedangkan pada tubuh berita dan selanjutnya hingga ke ujung piramisa adalah berurutan dan peristiwa yang terpenting hingga kurang penting. Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi informasi, khususnya internet, konstruksi 5W+1H, Khususnya untuk surat kabar dan majalah berkembang menjadi matrik.

H. Jurnalisme Interpretatif

Seperti dikemukakan dalam beberapa tulisan sebelumnya, kehadiran internet sebagai pemicu munculnya situs berita (jurnalistik online) telah menggeser model pemberitaan di media cetak, khususnya surat kabar. Semua peristiwa yang actual yang sebelumnya digarap surat kabar, kini menjadi konsumsi media online. Bahkan, jurnalistik online pun harus berebut berita dengan media sosial seperti twitter untuk menyajikan berita paling actual, bahkan masih dalam penggorengan. Selain itu, seperti biasanya karakter majalah semi investigatife, Koran tempo tetap kerap mencantumkan seumber anonim (sumber yang enggan disebut namanya atau tidak diungkapkan). Ketika mengkonstruksi berita dimulai perspektif wartawan atau editor campur baur dengan fakta. Cara pandang inilah kemudian menentukan fakta mana yang didahulukan , tubuh, dan penutup berita. dengan framing wartawan memilih, menyeleksi, dan menempatkan fakta sehingga menghasilkan aspek beria nama yang di tonjolkan dan bagian apa yang di sembunyikan serta hendak ke mana berita ini dibawa.


I. Jurnalisme, Agama dan Pertangungjawaban

Agama memiliki dua peran mulia, privat dan publik. Dibutuhkan garis pemisah yang tegas dari dua wilayah tersebut. Pemisahan ini menjadikan Negara tidak salah peran. Dimensi keyakinan dan ritual moralitas, interaksi sosial, dan pengembangan masyarakat di wilayah publik.Agama memiliki dua peran mulia, privat dan publik. dibutuhkan garis pemisah yang tegas dari dua wilayah tersebut, Pemisahan ini menjadikan negara tidak salah peran. dimensi kenyakinan dan ritual yang sangat subjektif adalah mutlak milik pribadi. sedangkan dimensi moralitas, interaksi sosial dan pengembangan masyarakay masuk di wilayah publik.